Jumat, 07 September 2012

Sepotong Percakapan Saat Kita Masih KITA


1.       “Kamu bukan yang pertama, tapi aku yakin kamu orang terakhir yang aku cinta,” ujarmu sambil menatapku halus. Aku terpaku.
2.       “Cuma kamu yang bikin aku jadi selinglung ini. Jadi gila. Ah, kamu tuh,” ucapmu sambil menjulurkan lidah. Malu.
3.       “Kita itu akan selamanya jadi KITA,” katamu sambil tersenyum. Kamu pun memelukku erat. Lembut. Penuh cinta.
4.       “Aku cuma mau jaga kamu. Karna cuma kamu yang bisa bikin ‘sakit jantung’ ku kambuh gini,” candamu sambil menempelkan tangan ku di atas dadamu. Saat itu jantung kita berdetak seiringan. Bersamaan dengan cinta kita.
5.       “Kamu itu makhluk teraneh di dunia. Kamu bisa nyakitin aku. Tapi kamu adalah penawar rasa sakit itu sendiri,” hiburmu saat setelah aku tak sengaja menyakitimu. Selalu kamu yang buatku kembali tersenyum.
6.       “Gigi kamu kayak gigi kelinci. Gede dua di tengah tapi yang lain kecil. Boleh dong aku panggil kamu kelinci?” kamu bertanya padaku. Aku hanya tersenyum. Menganggukkan kepala.
7.       “Seminggu lagi tanggal berapa, ya?” kamu menggodaku. Pertanyaan itu biasa menjelang peringatan hari jadian kita.
8.       “Please, jangan pergi. Di sini aja. Sama aku, ya?” ucapmu lirih. Kamu masih berusaha bertahan. Menantang badai.
9.       “Suatu saat nanti, aku yakin kamu itu orang pertama yang aku lihat saat bangun tidur,” ucapmu menerawang jauh. Aku sepeti mendapatkan bayangan yang sama seperti bayanganmu.
10.   “Aku mau ngomong sesuatu. Mm, anu, ehm, aku kangen kamu,” katamu yang lalu menundukkan kepala. Saat tanganku menyentuhmu, kau menatap wajahku. Kita saling tersenyum.
11.   “Kalo sekarang udah ada mesin waktu, aku bakal pake itu buat ke masa depan dan mastiin kalo aku masih bisa ngomong kaya gini ke kamu,” ucapmu penuh harap. Aku hanya bisa tersenyum dan mengangguk.
12.   “Kalo aku cerewet, artinya aku tu sayang sama kamu. Nggak mau kamu kenapa-kenapa,” katamu dengan mata berkaca-kaca. Aku memelukmu. Mencium lembut dahimu. Rasanya cinta itu hanya milik kita.
13.   “Suatu saat, waktu kita udah nggak bisa disebut kita lagi, cuma ada kamu dan aku, tanpa sedikitpun kata kita, ingatlah kalo udah berliter-liter air mataku jatuh buat kamu, udah ratusan kali kita jatuh dan bangkit lagi bareng. Kamu pasti bakal punya lebih banyak lagi kisah kaya gini, cuma lebih manis,” ucapku diiringi tetesan air mata. Kau hanya diam. Berkaca-kaca. Tak bergerak.
Inget nggak kamu?

buat orang yang baru saja aku sakiti
aku sayang kamu :')

Tidak ada komentar:

Posting Komentar