1.
“Kamu bukan yang pertama, tapi aku yakin kamu
orang terakhir yang aku cinta,” ujarmu sambil menatapku halus. Aku terpaku.
2.
“Cuma kamu yang bikin aku jadi selinglung ini.
Jadi gila. Ah, kamu tuh,” ucapmu sambil menjulurkan lidah. Malu.
3.
“Kita itu akan selamanya jadi KITA,” katamu
sambil tersenyum. Kamu pun memelukku erat. Lembut. Penuh cinta.
4.
“Aku cuma mau jaga kamu. Karna cuma kamu yang
bisa bikin ‘sakit jantung’ ku kambuh gini,” candamu sambil menempelkan tangan
ku di atas dadamu. Saat itu jantung kita berdetak seiringan. Bersamaan dengan
cinta kita.
5.
“Kamu itu makhluk teraneh di dunia. Kamu bisa
nyakitin aku. Tapi kamu adalah penawar rasa sakit itu sendiri,” hiburmu saat
setelah aku tak sengaja menyakitimu. Selalu kamu yang buatku kembali tersenyum.
6.
“Gigi kamu kayak gigi kelinci. Gede dua di
tengah tapi yang lain kecil. Boleh dong aku panggil kamu kelinci?” kamu
bertanya padaku. Aku hanya tersenyum. Menganggukkan kepala.
7.
“Seminggu lagi tanggal berapa, ya?” kamu
menggodaku. Pertanyaan itu biasa menjelang peringatan hari jadian kita.
8.
“Please, jangan pergi. Di sini aja. Sama aku,
ya?” ucapmu lirih. Kamu masih berusaha bertahan. Menantang badai.
9.
“Suatu saat nanti, aku yakin kamu itu orang
pertama yang aku lihat saat bangun tidur,” ucapmu menerawang jauh. Aku sepeti
mendapatkan bayangan yang sama seperti bayanganmu.
10.
“Aku mau ngomong sesuatu. Mm, anu, ehm, aku
kangen kamu,” katamu yang lalu menundukkan kepala. Saat tanganku menyentuhmu,
kau menatap wajahku. Kita saling tersenyum.
11.
“Kalo sekarang udah ada mesin waktu, aku bakal
pake itu buat ke masa depan dan mastiin kalo aku masih bisa ngomong kaya gini
ke kamu,” ucapmu penuh harap. Aku hanya bisa tersenyum dan mengangguk.
12.
“Kalo aku cerewet, artinya aku tu sayang sama
kamu. Nggak mau kamu kenapa-kenapa,” katamu dengan mata berkaca-kaca. Aku
memelukmu. Mencium lembut dahimu. Rasanya cinta itu hanya milik kita.
13.
“Suatu saat, waktu kita udah nggak bisa disebut
kita lagi, cuma ada kamu dan aku, tanpa sedikitpun kata kita, ingatlah kalo
udah berliter-liter air mataku jatuh buat kamu, udah ratusan kali kita jatuh
dan bangkit lagi bareng. Kamu pasti bakal punya lebih banyak lagi kisah kaya
gini, cuma lebih manis,” ucapku diiringi tetesan air mata. Kau hanya diam. Berkaca-kaca.
Tak bergerak.
Inget nggak kamu?
buat orang yang baru saja aku sakiti
aku sayang kamu :')
Tidak ada komentar:
Posting Komentar