Kalau boleh jujur, aku ingin kamu jujur. Mungkin sulit buatmu untuk jujur. Kepadaku, pacarmu. Aku tahu kamu masih menyembunyikan puluhan, ratusan bahkan ribuan kebohongan yang kamu tutupi dariku.
Aku benci setiap kali kita bertengkar karena pelan-pelan terungkap satu persatu kebohonganmu itu. Aku benci kamu yang dengan mudahnya minta maaf dan menyuruhku melupakan kejadian itu. Alasanmu, itu sudah nggak berguna lagi dan malah bakal bikin kita sering bertengkar kalau aku terus mengingatnya.
Kamu selalu menganggapku tak sampai merasakan sakit sedalam itu. Selalu menganggapku baik-baik saja meskipun salah satu kebohongan mu itu baru saja terungkap. Perempuan mana yang nggak sakit hati dibohongi pacarnya sekecil apapun itu. Semua sama, sakit rasanya.
Aku benci ketika kamu berkata padaku dengan tenangnya seakan-akan tidak ada apa-apa diantara kita. Seakan-akan tidak ada pertengkaran diantara kita. Padahal sesungguhnya kita baru saja bertengkar beberapa menit yang lalu. Aku benci itu.
Aku benci saat aku sadar tak satupun orang mengerti perasaan ku. Hanya aku yang mengerti. Aneh rasanya, kamu itu pacarku tap aku merasa sendiri di dunia ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar