Kalau boleh jujur, aku ingin kamu jujur. Mungkin sulit buatmu untuk jujur. Kepadaku, pacarmu. Aku tahu kamu masih menyembunyikan puluhan, ratusan bahkan ribuan kebohongan yang kamu tutupi dariku.
Aku benci setiap kali kita bertengkar karena pelan-pelan terungkap satu persatu kebohonganmu itu. Aku benci kamu yang dengan mudahnya minta maaf dan menyuruhku melupakan kejadian itu. Alasanmu, itu sudah nggak berguna lagi dan malah bakal bikin kita sering bertengkar kalau aku terus mengingatnya.
Kamu selalu menganggapku tak sampai merasakan sakit sedalam itu. Selalu menganggapku baik-baik saja meskipun salah satu kebohongan mu itu baru saja terungkap. Perempuan mana yang nggak sakit hati dibohongi pacarnya sekecil apapun itu. Semua sama, sakit rasanya.
Aku benci ketika kamu berkata padaku dengan tenangnya seakan-akan tidak ada apa-apa diantara kita. Seakan-akan tidak ada pertengkaran diantara kita. Padahal sesungguhnya kita baru saja bertengkar beberapa menit yang lalu. Aku benci itu.
Aku benci saat aku sadar tak satupun orang mengerti perasaan ku. Hanya aku yang mengerti. Aneh rasanya, kamu itu pacarku tap aku merasa sendiri di dunia ini.
Sabtu, 22 September 2012
Mengerti
-Ryan-
Kamu nomor satu di hidupku.
+Bisa tungguin aku?
- Duh, maaf, nggak bisa. Aku ada tugas sekolah. Maaf ya?
Sepertinya bukan nomor satu, tapi nomor dua. Aku menyadari itu. Kasihan sekali pacar ku. Maafkan aku sayang. Lagi pula, laki-laki nggak suka nunggu. Masa nggak bisa sih pacarku itu ngertiin aku sekali aja?
Kamu nomor dua di hidupku.
+Kamu dimana, kok nggak ada?
- Lagi sama temen-temen. Maaf ya?
+Kirain nunggu aku, ternyata sama temen mu ya?
- Iya, maaf ya.
Sepertinya bukan nomor dua, tapi nomor tiga. Kasihan pacar ku itu. Lagi pula, nggak tahu apa kalau aku sibuk? Gengsi kalau gak jadi pergi sama temen cuma gara-gara cewek itu, gara-gara pacarku, Laura. Masa nggak bisa sih pacarku ngertiin aku sekali aja?
-Laura-
Kamu nomor satu di hidupku.
+Kamu bisa bantu aku kerjain tugas nggak sekarang?
- Aku ada tugas juga sih sebenernya, tapi nggak papa lah, buat kamu.
+Makasih ya.
Duh, tugas sebenernya numpuk banget nih. Tapi nggak papa lah, buat pacarku juga. Tuhan, semoga Ryan suatu saat bisa sekali aja jadiin aku nomor satu. Tapi mungkin aku terlalu bermimpi ya? Terlalu egois. Semua cowok juga kayak gitu kok.
Kamu tetap nomor satu di hidupku.
+Hey, jalan yuk?
- Sorry, aku ada janji sama cowok ku, sorry ya?
+Oke deh, nggak papa.
Ternyata cowok ku batalin janjinya. Dia ada acara sama temennya. Padahal aku udah nolak tawaran temenku buat jalan bareng sama dia. Cowok mungkin lebih seneng sama temennya, ketimbang pacarnya. Tapi nggak papa lah, asal dia seneng.
Jumat, 14 September 2012
Jomblo
Pendidikan Dasar Teknologi, Jumat
Aku dan kamu. Sekarang kita sama-sama jomblo. Ini menyakitkan. Sakit saat jelas-jelas kita masih saling sayang tapi kita malah jadi gini.
Ini salahku. Jelas-jelas masih sayang tapi malah jadi gini. Sumpah Aku gini karena nggak enak sama semua. Sejak awal kita memang beda.
Siapa yang salah? Aku? Kamu? Kita? Perbedaan ini? Rasa ini? Apa? Cinta? Katamu, cinta datang karena takdir dan rasa yang tumbuh di hati kita. Jadi, takdir dan rasa ini yang salah?
Saat ku tanya dulu, kamu berkata kalau cinta nggak mungkin salah. Kamu juga bilang, kita nggak salah. Lalu siapa? Tuhan? Nggak mungkin. Katamu, Tuhan itu Maha Sempurna.
Aku tahu sekarang bukan saat yang tepat untuk mencari siapa yang salah. Karna lebih penting untuk ku kembali mengejar berita tentang mu. Aku akan tetap dan selalu jadi penggemar mu. Meskipun tak seperti penggemar mu yang lain.
Aku masih berharap. Aku masih ingat semua. Saat kita masih seperti dulu. Saat ikatan kita masih lebih dari sekarang. Lebih dari teman.
Aku masih ingat sema hal yang kita bagi. Semua janji yang kita buat, cuma kita berdua. Semua harapan yang kita buat. Aku masih ingat semua.
Bagaimana dengan mu?
Masih ingatkah kamu tentang gelang itu? Aku harap masih. Gelang merah-ungu yang bertuliskan nama kita.
buat kamu,
penyuka Real Madrid
Aku dan kamu. Sekarang kita sama-sama jomblo. Ini menyakitkan. Sakit saat jelas-jelas kita masih saling sayang tapi kita malah jadi gini.
Ini salahku. Jelas-jelas masih sayang tapi malah jadi gini. Sumpah Aku gini karena nggak enak sama semua. Sejak awal kita memang beda.
Siapa yang salah? Aku? Kamu? Kita? Perbedaan ini? Rasa ini? Apa? Cinta? Katamu, cinta datang karena takdir dan rasa yang tumbuh di hati kita. Jadi, takdir dan rasa ini yang salah?
Saat ku tanya dulu, kamu berkata kalau cinta nggak mungkin salah. Kamu juga bilang, kita nggak salah. Lalu siapa? Tuhan? Nggak mungkin. Katamu, Tuhan itu Maha Sempurna.
Aku tahu sekarang bukan saat yang tepat untuk mencari siapa yang salah. Karna lebih penting untuk ku kembali mengejar berita tentang mu. Aku akan tetap dan selalu jadi penggemar mu. Meskipun tak seperti penggemar mu yang lain.
Aku masih berharap. Aku masih ingat semua. Saat kita masih seperti dulu. Saat ikatan kita masih lebih dari sekarang. Lebih dari teman.
Aku masih ingat sema hal yang kita bagi. Semua janji yang kita buat, cuma kita berdua. Semua harapan yang kita buat. Aku masih ingat semua.
Bagaimana dengan mu?
Masih ingatkah kamu tentang gelang itu? Aku harap masih. Gelang merah-ungu yang bertuliskan nama kita.
buat kamu,
penyuka Real Madrid
Tragedi di Tempat Bimbel
Primagama English, Kamis
Kamu yang jadi partner praktek bahasa Inggris ku. Nggak nyangka. Kita sama-sama nggak mau. Aku tahu itu. Kamu juga tahu itu.
Aku nggak suka. Tapi aku suka. Coba, gimana itu? Aku masih seperti dulu. Berubah 180 derajat kalau sama kamu. Masih sama seperti dulu. Inget nggak kamu?
Kamu tahu? Aku masih grogi setiap sama kamu. Wajah aku masih selalu berubah merah setiap ada hal tentang kamu di sekitar ku. Aku masih dengan mudah bisa menemukan mu dalam keramaian. Semua masih seperti dulu.
Untuk alasan apa aku masih seperti itu? Status kita cuma teman. Nggak lebih. Tapi, kamu perlu tau. Aku masih selalu dan sangat amat sayang kamu. Sumpah.
Aku masih sayang kamu. Aku masih suka memandangi senyum mu, seperti saat ini. Aku masih senang menulis tentang kita. Aku masih suka semua itu
buat kamu,
yang pake jaket Real Madrid
Kamu yang jadi partner praktek bahasa Inggris ku. Nggak nyangka. Kita sama-sama nggak mau. Aku tahu itu. Kamu juga tahu itu.
Aku nggak suka. Tapi aku suka. Coba, gimana itu? Aku masih seperti dulu. Berubah 180 derajat kalau sama kamu. Masih sama seperti dulu. Inget nggak kamu?
Kamu tahu? Aku masih grogi setiap sama kamu. Wajah aku masih selalu berubah merah setiap ada hal tentang kamu di sekitar ku. Aku masih dengan mudah bisa menemukan mu dalam keramaian. Semua masih seperti dulu.
Untuk alasan apa aku masih seperti itu? Status kita cuma teman. Nggak lebih. Tapi, kamu perlu tau. Aku masih selalu dan sangat amat sayang kamu. Sumpah.
Aku masih sayang kamu. Aku masih suka memandangi senyum mu, seperti saat ini. Aku masih senang menulis tentang kita. Aku masih suka semua itu
buat kamu,
yang pake jaket Real Madrid
Senin, 10 September 2012
Untitled
No more KITA. Selesai. Cukup. END
Saya sayang kamu. Tapi, maaf, mungkin emang harus gini. Kamu boleh kecewa sama aku. Kalau kamu sayang beneran sama aku, kamu pasti kecewa.
Saya mutusin kamu, sakit. Saya nggak mau sebenernya. Sumpah, sakit. Nggak tau kenapa selalu ada rasa sakit saat inget kamu. Sedih.
Saya nggak tahu harus bilang apa. Tapi yang past luka kecil bekas sayatan itu pasti terbuka lagi setiap ingat kalau kamu dan aku sudah bukan KITA lagi.
Saya nggak biasa saat kita nggak lagi saling lirik buat sekejap saja liat orang yang kita sayang. Saya nggak biasa sama kita yang gini. Sumpah.
Asal kamu tahu, saya masih seperti dulu. Semuanya. Pikiran, hati, rasaku, nggak ada yang berubah. Masih sama seperti dulu. Cuma tertuju ke kamu.
Asal kamu tahu, aku masih sayang. Tapi, maaf ...
Saya sayang kamu. Tapi, maaf, mungkin emang harus gini. Kamu boleh kecewa sama aku. Kalau kamu sayang beneran sama aku, kamu pasti kecewa.
Saya mutusin kamu, sakit. Saya nggak mau sebenernya. Sumpah, sakit. Nggak tau kenapa selalu ada rasa sakit saat inget kamu. Sedih.
Saya nggak tahu harus bilang apa. Tapi yang past luka kecil bekas sayatan itu pasti terbuka lagi setiap ingat kalau kamu dan aku sudah bukan KITA lagi.
Saya nggak biasa saat kita nggak lagi saling lirik buat sekejap saja liat orang yang kita sayang. Saya nggak biasa sama kita yang gini. Sumpah.
Asal kamu tahu, saya masih seperti dulu. Semuanya. Pikiran, hati, rasaku, nggak ada yang berubah. Masih sama seperti dulu. Cuma tertuju ke kamu.
Asal kamu tahu, aku masih sayang. Tapi, maaf ...
Jumat, 07 September 2012
Sepotong Percakapan Saat Kita Masih KITA
1.
“Kamu bukan yang pertama, tapi aku yakin kamu
orang terakhir yang aku cinta,” ujarmu sambil menatapku halus. Aku terpaku.
2.
“Cuma kamu yang bikin aku jadi selinglung ini.
Jadi gila. Ah, kamu tuh,” ucapmu sambil menjulurkan lidah. Malu.
3.
“Kita itu akan selamanya jadi KITA,” katamu
sambil tersenyum. Kamu pun memelukku erat. Lembut. Penuh cinta.
4.
“Aku cuma mau jaga kamu. Karna cuma kamu yang
bisa bikin ‘sakit jantung’ ku kambuh gini,” candamu sambil menempelkan tangan
ku di atas dadamu. Saat itu jantung kita berdetak seiringan. Bersamaan dengan
cinta kita.
5.
“Kamu itu makhluk teraneh di dunia. Kamu bisa
nyakitin aku. Tapi kamu adalah penawar rasa sakit itu sendiri,” hiburmu saat
setelah aku tak sengaja menyakitimu. Selalu kamu yang buatku kembali tersenyum.
6.
“Gigi kamu kayak gigi kelinci. Gede dua di
tengah tapi yang lain kecil. Boleh dong aku panggil kamu kelinci?” kamu
bertanya padaku. Aku hanya tersenyum. Menganggukkan kepala.
7.
“Seminggu lagi tanggal berapa, ya?” kamu
menggodaku. Pertanyaan itu biasa menjelang peringatan hari jadian kita.
8.
“Please, jangan pergi. Di sini aja. Sama aku,
ya?” ucapmu lirih. Kamu masih berusaha bertahan. Menantang badai.
9.
“Suatu saat nanti, aku yakin kamu itu orang
pertama yang aku lihat saat bangun tidur,” ucapmu menerawang jauh. Aku sepeti
mendapatkan bayangan yang sama seperti bayanganmu.
10.
“Aku mau ngomong sesuatu. Mm, anu, ehm, aku
kangen kamu,” katamu yang lalu menundukkan kepala. Saat tanganku menyentuhmu,
kau menatap wajahku. Kita saling tersenyum.
11.
“Kalo sekarang udah ada mesin waktu, aku bakal
pake itu buat ke masa depan dan mastiin kalo aku masih bisa ngomong kaya gini
ke kamu,” ucapmu penuh harap. Aku hanya bisa tersenyum dan mengangguk.
12.
“Kalo aku cerewet, artinya aku tu sayang sama
kamu. Nggak mau kamu kenapa-kenapa,” katamu dengan mata berkaca-kaca. Aku
memelukmu. Mencium lembut dahimu. Rasanya cinta itu hanya milik kita.
13.
“Suatu saat, waktu kita udah nggak bisa disebut
kita lagi, cuma ada kamu dan aku, tanpa sedikitpun kata kita, ingatlah kalo
udah berliter-liter air mataku jatuh buat kamu, udah ratusan kali kita jatuh
dan bangkit lagi bareng. Kamu pasti bakal punya lebih banyak lagi kisah kaya
gini, cuma lebih manis,” ucapku diiringi tetesan air mata. Kau hanya diam. Berkaca-kaca.
Tak bergerak.
Inget nggak kamu?
buat orang yang baru saja aku sakiti
aku sayang kamu :')
Selasa, 04 September 2012
Si Hidung Jambu Mete
Semua orang yang melihat wajahmu pasti akan terfokus pada hidungmu, begitu juga aku. Bentuknya seperti jambu mete dibelah dan ditempelkan ke hidungmu.
Tinggimu yang 167 itu membuatmu menonjol diantara temanmu dan kau pun jadi pusat perhatian. Melihatmu dari jauh adalah hobi baruku setiap waktu jeda istirahat tiba.
Si tinggi berhidung jambu mete. Itulah kamu. Kita sudah saling kenal. Kamu teman latihan, teman bimbel, juga teman sekolah. Banyak waktu aku bisa bertemu kamu. Lagu favorit kita juga sama, Hingga Akhir Waktu.
Kamu, yang lahirnya akhir Juli. Bisa jelaskan apakah perasaan gila ini? Perasaan senang tapi malu saat melihatmu, mau tapi malu saat kau ajak bicara. Jenis apakah perasaan gila ini?
Perasaan gila ini hadir begitu saja saat pertama meliihatmu. Ah, tak usah dihiraukan. Aku cukup suka memandangmu yang tersenyum dalam kerumunan temanmu. Pengagum Rahasia? Ah, tidak. Kamu tahu kalau aku mengagumi kamu.
Kamu, yang di sampingku saat tulisan ini kubuat. Kamu yang penasaran apakah isi tulisaan ini. Kamu yang jadi inspirasi tulisan ini. Taukah kamu? Kamu selalu bisa menginspirasiku.
Buat kamu Si Hidung Jambu Mete yang jadi inspirasi tulisan ini, terima kasih selalu menginspirasiku. Suatu sat tinggi badan ku pasti akan sama denganmu! :)
Langganan:
Postingan (Atom)